PNK

 

PENDIDIKAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN (PNK)

 

Sejak tahun 1993, Perguruan Brigjend Katamso telah memulai program Pendidikan Nilai-Nilai Kemanusiaan (PNK) dengan mempelajari dan menerapkan metodologi yang digunakan oleh Yayasan Taman Siswa, yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan Indonesia. Beliau dikenal dengan tiga prinsip dasar pendidikan, yaitu:

  • Ing Ngarso Sung Tulodo – yang di depan harus menjadi teladan.
  • Ing Madyo Mangun Karso – yang di tengah harus mengembangkan kemauan/inisiatif.
  • Tut Wuri Handayani - yang di belakang harus memberikan dukungan.

 

Filosofi pendidikan ini menjadi inspirasi utama dalam membentuk pendidikan karakter di Perguruan Brigjend Katamso, dengan menekankan pentingnya keteladanan, motivasi, dan dukungan dalam proses pembelajaran.

 

Pendidikan Nilai-Nilai Kemanusiaan (PNK) dan karakter ditempatkan sebagai landasan utama dalam mewujudkan visi Perguruan Nasional Brigjend Katamso, yaitu mencerdaskan dan membangun karakter bangsa. Ada lima pilar nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar dalam upaya pembentukan karakter bangsa, yaitu: kebenaran, kebajikan, kedamaian, cinta kasih, dan tanpa kekerasan. Kelima nilai tersebut sudah ada dalam diri setiap individu, dan tugas kita adalah membangkitkan kembali nilai-nilai kemanusiaan tersebut.

 

Pendekatan yang digunakan untuk membangkitkan kualitas dalam diri peserta didik dilakukan melalui dua metode utama, yaitu:

1. Pendekatan Langsung

Pendekatan ini diterapkan dalam mata pelajaran tersendiri di dalam kurikulum, yaitu Budi Pekerti. Strategi pembelajaran dalam pendekatan ini mencakup lima teknik utama, yaitu: duduk diam, berdoa, bercerita, bernyanyi,dan aktivitas kelompok.

 
2. Pendekatan Tidak Langsung

Pendekatan ini dilakukan dengan mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam seluruh mata pelajaran, serta dalam berbagai kegiatan intra sekolah dan ekstrakurikuler.

 

Kedua pendekatan ini bertujuan untuk membangkitkan serta mengembangkan nilai-nilai keillahian yang telah ada dalam diri setiap peserta didik, sehingga terjadi transformasi dalam diri mereka menuju keunggulan manusia (human excellence).

 

Selain itu, pendidikan nilai-nilai kemanusiaan (PNK) juga diterapkan melalui pembiasaan (habituasi) dalam berbagai kegiatan sekolah, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, welas asih, cinta damai dan bertanggung jawab. Pembiasaan ini tidak hanya mengajarkan pengetahuan tentang nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga bertujuan agar peserta didik merasakan dan menerapkannya sebagai gaya hidup mulai dari lingkup terkecil seperti keluarga hingga masyarakat yang lebih luas.

 

Nilai-nilai kemanusiaan ini perlu ditanamkan dan dikembangkan dalam diri setiap siswa, sehingga pada akhirnya akan menjadi cerminan hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Perguruan Nasional Brigjend Katamso berperan dalam mengembangkan pendidikan karakter dengan menjadikan sekolah sebagai pusat pengembangan budaya dan karakter melalui pendekatan langsung maupun tidak langsung.

 

Dengan demikian, terbentuknya budaya karakter sekolah akan melahirkan generasi - generasi bangsa yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan, yang dapat digunakan untuk kebaikan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Pada akhirnya, akhir dari pengetahuan adalah kebijaksanaan, dan akhir dari pendidikan adalah karakter.